Enam babak dalam ingatan Tukang Kaba — sejarah bukan sebagai fakta kering, melainkan sebagai beban yang harus dipikul bersama.
Konfederasi belum bernama. Sepuluh nagari masih hidup dalam ritme masing-masing — berbagi garis pantai, berbagi nenek moyang, tetapi belum satu suara. Pada masa ini, yang dipertaruhkan bukan kekuasaan melainkan identitas: siapakah kita sebelum ada yang memaksa kita mendefinisikan diri?
"Sebelum perjanjian ada, sudah ada lada. Sebelum loji berdiri, sudah ada surau. Sebelum kata 'konfederasi' diucapkan, sudah ada alasan untuk bersatu — dan sudah ada alasan untuk tidak."
Kapal-kapal VOC bukan yang pertama datang dari barat — tetapi mereka yang pertama meminta tanda tangan. Perjanjian Painan 1663 meninggalkan luka yang tidak berdarah: hak monopoli yang tidak terasa seperti kehilangan sampai lada tidak lagi bisa dijual bebas.
"Pada tahun itu Painan menandatangani sesuatu. Bungo Pasang tidak ikut serta. Kambang tidak ikut serta. Tetapi lada dari Batang Kapeh tetap harus melewati loji mereka — dan tinta di kertas itu ternyata lebih kuat dari sepuluh segel adat."
Setelah krisis ultimatum 1668, konfederasi memilih arahnya. Di tahun 1669, ada yang memilih membangun jaringan di bayangan, ada yang memilih memperkuat dari dalam. Pada 1670, VOC membakar pasar Salido — tiga puluh dua warung dan lima gudang menjadi abu, dan konfederasi harus menjawab bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Pada 1671, perahu dari Inderapura membawa surat Sultan: tawaran perjanjian pertahanan bersama. Untuk pertama kalinya, konfederasi tidak hanya bertahan — ia diminta untuk berdiri sebagai mitra, bukan sekadar korban.
"Ada yang berkata api di Salido adalah batas — setelah itu, tidak ada jalan kembali ke negosiasi biasa. Ada yang berkata batas itu sudah ada sejak 1663. Yang pasti: ketika utusan Inderapura tiba di Bungo Pasang, pertanyaannya bukan lagi apakah konfederasi akan melawan. Pertanyaannya adalah: bersama siapa?"
Pada 1680, Rancak Di Langik menemukan bahwa jalur intelijen konfederasi telah bocor selama dua belas tahun — seseorang di dalam telah menjual kepercayaan itu. Tiga tahun kemudian, di batu karang yang tidak ada di peta, seorang nelayan menemukan peti berisi perkamen Portugis bertanggal 1520 — dokumen yang bisa mempersoalkan dasar hukum seluruh klaim VOC di pesisir ini. Dan pada 1687, setelah tujuh tahun penyelidikan, Rancak datang lagi dengan sebuah nama. Nama seseorang yang pernah duduk di musyawarah. Pada Kronik ini, kepercayaan adalah sumber daya yang paling langka.
"Ada yang berkata pengkhianat terbesar adalah yang datang dari dalam. Ada yang berkata dokumen Laut Kabut adalah jawaban atas semua pertanyaan yang belum bisa diajukan. Tukang Kaba hanya mencatat: pada masa ini, setiap penghulu belajar bahwa wajah yang paling dikenal bisa menyimpan jarak yang paling jauh."
Api di Inderapura 1701 bukan sekadar peristiwa lokal — ia adalah ujian apakah konfederasi akan berdiri atau tercerai-berai. Nagari-nagari yang selama ini berjarak tiba-tiba dipaksa memilih: bersatu menanggung beban, atau berdiam diri dan membiarkan satu bagian terbakar agar bagian lain selamat.
"Sejarah tidak menghukum mereka yang memilih salah. Sejarah menghukum mereka yang tidak memilih sama sekali."
Konfederasi yang sampai ke sini bukan konfederasi yang sama dengan yang ada di Kronik I. Orang-orangnya berbeda. Beberapa nagari mungkin tidak ada lagi dalam bentuk aslinya. Tetapi selama ada yang mengingat nama-namanya, selama ada yang menyanyikan randai tentang mereka, mereka belum selesai.
"Alam takambang jadi guru. Apa yang telah kamu bangun akan mengajari kamu apa artinya membangun. Apakah kamu layak dari kepercayaan yang diberikan?"